Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Di Atas Mata Remaja

Jebres . . . Jebres . . .!
Yang Jebres siap-siap . . .!
Penjual minuman begitu sigrak berteriak

Aku memotong perjalanan ini
Sampai di sini
Tapi tidak untuk nadimu
Nadiku, nadi rindu
Kuberi paru kiri
Berat berurat
Berlipat-lipat erat
Lekat dan lumat

Empat mata bertatap
Empat tangan mendekap
Seribu peluru menderu
Sampaikan rinduku
Pada langit kotamu

Kamar baru, 5 Juli 09 Selengkapnya.....

Lilin

Barusaja aku mengejar secerca cahaya di sudut malam
kudapati, lalu tanganku menggenggam
perlahan, meletakkannya di atas talam
sebagai teman saat santap malam

tiga atau
binarnya takkan padam

lima atau
arteri sumbu untuknya bertahan

tujuh atau
nadi-nadi impian memetakan

mana yang akan kau abadikan?
Tak ada? hahaha
kuncupnya menari gemulai

tenggara, ke utara
lalai, segera mendekapnya

utara, ke tenggara
lunglai, kututup dengan gelas

tiga puluh tiga musim

gelas memuai

lilin!?

Cirendeu, Mei 2009 Selengkapnya.....

Ingin Berlayar

perahu sampan telah disiapkan
tak banyak bercerita
tentang kau, dia, dan mereka
ambil dayungnya
selagi angin darat belum datang
berlayar di air tenang
takkan sampai keseberang
berselancar
harus pandai berenang
atau
berlayar saja di air tenang
dengan gelombang sedang
kibarkan layar
selagi angin lembah belum datang

Cirendeu, May 09 Selengkapnya.....

Hujan Oh…

Hari – hari hujan melanda
Kali ini bukan lagi hujan biasa
Hujan yang mendidihkan kehangatan senja
Memandikan aura yang terjaga
Menikam purnama dengan gulita

Hujan oh…
Malam membisu buta
Tiada lentera yang tersisa

Pisangan Barat, 250209 Selengkapnya.....

NILA

Seringku terdiam dalam bisu
Setitik nila telah bercampur susu
Selepas tawa tadi sore
Malam ini beku
Hanya tinta yang mengadu pilu

Jl.SD Inpres, 270209 Selengkapnya.....

MEREKA TAK TAHU


Mas..
Jikalau manusia tahu
Mengapa pelangi itu indah
merekah selepas rinai hujan sore-sore

Mas..
Andai saja manusia tahu
Mengapa embun menetes di awal waktu
membangunkan bumi dari mimpinya

Mas..
Kalau saja manusia tahu
Mengapa melati putih mewangi
semerbak bersama mentari pagi

Maka mereka tak perlu meninggalkan tanya
mengapa aku begitu erat mendekapmu

Cireundeu,Syawal 1429 H
Selengkapnya.....

PETA
bagi "pecinta alam" yang ingin berpetualang menelusuri kehidupan

Seperti air
mengalir dari hulu ke muara
menelusuri lembah, menuruni sawah
menerjang terjal bebatuan sungai
gemericik deras dalam arus ramai

kembali dalam telaga
tawar menjelma payau
berdebur pada batu-batu karang
terombang ambing badai
lembut menyentuh bibir pantai
bergulung-gulung kembali ke laut lepas

menguap bersama terik
beterbangan awan putih bagai kapas
turun ke bumi beriring kilatan api
berpulang damai
meresap dalam tanah

Winong, Ramadhan 1429 H
Selengkapnya.....

TABIR ALAM

Biru berselimut kabut putih
aduhai lembut menyentuh pagi
butiran-butiran kecil keemasan
perlahan melipat selimut putih itu
aku semakin dalam menatapmu
anggun sekali kamu, Lawu..

duhai pasak bumi
kau tawarkan keindahan
ke seluruh pelosok negeri
hatiku tertawan
kau membuatku berdiri abu-abu
dalam halusinasi dan kesadaran

duhai tabir alam
janganlah kau tutupi kota
dibalik punggung kerasmu itu
sudikah kau bergeser sedikit saja
agar terobati kerinduan yang menanti
agar dapat ku peluk nafas pagi

kalangkabut, Ramadhan 1429 H
Selengkapnya.....

QIBLATAEN

kepada guru besar

Dua buah..tentu beda biji
Dua wadah..tampak beda isi
Dua wajah..itu lain arti
Dua arah..?niscaya lain misi
Sekiranya desah nafas tempo hari

Satu titik api yang tergadai
Penyampai pesan damai
Sejengkal tak terurai
Bergelimang badai nan menguntai
Ramai senyap petikan dawai
Desah nafas menit menuai

Titik terang menjelang malam
Gumintang diam padamkan alam
Berkedip bawakan talam padamkan kelam
Penjuru arah padanya tertanam
Meriakkan kokoh pohon Palam
Desah nafas Qiblataen..runyam

Ciputat,5 September 2008
Selengkapnya.....

RESAH

Aku seperti hidup di negeri antah berantah
Tak tahu arah ke mana hamba akan melangkah
Kembali semua arah dalam merah
Kini gundah yang merekah
Tahulah yang megah itu tak selalu indah
Dan aku semakin tahu kalau aku hanyalah Syafaah

Kepada daun yang telah jatuh, 5 Mei 2008
Selengkapnya.....

PUTRA TANAH REOG

Rabalah bintang yang paling terang bermahkota
Dengan megah ia berkawan cahaya bulan
Niscaya kau tertegun terkesima
Sesekali awan kelam menari diatas angin kepedihan
Lihatlah kawan!saat gerimis menghapusnya
Tercipta pelangi melengkung cantik diatas senyuman

Lantas mega merah turut menyapa dikala senja telah purna
Gulita malam belum begitu tua rupanya
Sedang beribu sajak telah terlahir dari tangannya
Berjuta kisah terukir kekal dengan pahatan tintanya
Rerumputan yang terlelap selalu tahu
Tuturnya semanis madu
Bersatu dengan hati seputih salju

Putra tanah Reog terpatri tali pati
Paras iman yang ia miliki
Bercahaya bagai purnama
Berkilau bak permata
Gemar mengarifi kehidupan dan membumikan kesadaran

Itu,aku selalu rindu.....!
Senada dengan detik sang waktu
Seirama dengan kedip lintang Waluku
Turut menjelma dalam asa bersambung masa

Istana hati, September 2007
Selengkapnya.....

TANYA

Apakah aku hidup untuk disakiti?
Disetiap musim silih berganti

Apakah aku hidup untuk dibohongi?
Disetiap sudut yang tak ada bukti

Apakah aku hidup untuk diKhianati?
Di suatu hari nanti ketika aku mati

Kau salah!
karena aku hidup hanya untuk mengabdi
Kepada sang Pelukis pelangi abadi

Harga mati, 19 Juli 2007
Selengkapnya.....

SESAL

Musnah beribu kata ketika sebuah kepercayaan runyam

Akulah manusia terkutuk dalam fatamorgana kita bukan?

Keegoisan membubung tinggi dalam maya

Baiknya kau hapus mimpi burukku

Balasku hancurkan mimpi indahmu

Terhapus sudah pelita kegelapan

Inginku rangkai kembali serpihan hati yang tersisa

Tapi dengan akar mana untuk merakitnya?

Sedang aku telah membuat luka itu semakin menganga

Benang-benang tipis penutup luka itu kian terputus

Searah dengan jalan yang kutapaki semakin terjal

Sunyiku menyendiri di gurun yang panas dengan bau neraka

Menerkam kejam di mensi jiwa yang terus menghimpit

Semakin sempit keras menjerit

Untuk mengaduhpun berat serasa


Sepi yang menanti,17 Juni 2006





MENGGAPAI MIMPI


Aku telah buta saat senja tiba

Hingga tiada daya untuk menuai fakta

Sedang jemari yang kumiliki tertatih untuk meraba sebuah mimpi

Tak di mengerti ia menggugah jiwa yang telah lama mati

Patah-patah jantungku hanyut dalam satu arah

Sepadan dengan denyut nadiku

Sederas aliran darahku

Menggeretak serempak sel-sel yang mulai menua

Kala hidup tengah berdiri

Aral lintang duri siap tersaji

Menggenggam pundit-pundi udara yang sempat terlepas

Sebagai bekal mengepakkan sayap sebesar kipas

Menata arteri untuk menggapai mimpi


Cahaya berbinar,08 Februari 2007

Selengkapnya.....

mukadimah

ujarnya, tersimpan sayang berlipat-lipat di balik diamku, terangkum kasih beribu masa di dalam senyumku yang malu-malu

sapa menyapa


ShoutMix chat widget

berkejar kejaran